Harga Batu Bara Terseret Lagi Di Bawah US$ 60/Ton

zehrabilgisayar.net, migas – Pada pekan ini harga batu bara mengalami pelemahan lagi. Dimana harga dari salah satu komoditas andalan ekpsor Indonesia ini turun di bawah US$ 60/Ton.

Minggu ini, harga batu bara acuan pada pasar ICE Newcastle (Australia) mengalami penurunan sebesar 4,03% secara point-to-point. Harga batu bara pada perdagangan akhir pekan ditutup di level US$ 58,40/ton.

Hal tersebut dikarenakan ketatnya pasokan batu bara domestik China yang membuat harga dari batu bara tidak kompetitif, sehingga membuat harga batu bara impor lintas laut masih tertahan dari koreksi lanjutan.

Pada perdagangan Jumat (9/10/2020) yang lalu, harga batu bara termal Qinhuangdao untuk kalori 5.500 Kcal/kg masih berada di atas rantang target harga informal yang ditetapkan pemerintah Tirai Bambu.

Hal tersebut membuat para pelaku industri termasuk perusahan setrum Negara Tirai Banda berpotensi mempunyai batu bara impor. Apalagi menjelang akhir tahun dimana kebijakan kuota akan diperbarui.

Pemangkasan yang dilakukan terhadap produksi juga dibarengi dengan potensi La Nina yang memberikan efek disrupsi pasokan, dimana hal ini bisa mendongkrak harga batu bara. Ke depan harga dari komoditas unggulan Indonesia dan Australia ini diproyeksikan akan merangkak naik seiring dengan adanya pemulihan permintaan.

Walaupun terjadi secara gradual, fenomena pemulihan permintaan terhadap batu bara juga terjadi di India. Jumlah impor batu bara yang dilakukan Indoa pada bulan September diperkirakan mencapai sebesar 14,62 juta ton berdasarkan data pelacakan kapal serta pelabuhan Refinitiv, dimana angka tersebut naik dari 12.97 juta pada bulan Agustus.

Ini adalah kinerja terkuat dari para importir batu bara terbesar kedua dunia sejak bulan April, walaupun impor masih mengalami penurunan sebesar 6,3% dari 15,61 juta ton yang tercatat pada bulan September 2019, berdasarkan laman Reuters.

Selama sembilan bulan, impor batu bara diperkirakan mencapai sebesar 128,24 juta ton, dimana angka tersebut mengalami penurunan sebesar 17% dari 154.8 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Sektor batu bara India sudah terpukul keras oleh pembatasan aktivitas ekonomi yang sudah berlaku mulai bulan Maret sampai seterusnya, dimana negara terpadat kedua di dunia ini sedang berjuang untuk mengatasi pandemi Covid-19 yang sedang merebak.

Perekonomian negara India juga diprediksikan akan berkontaksi sampai 10% pada tahun fiskal yang dimulai pada bulan April. Hal ini merupakan kinerja terlemah Indoa sejak tahun 1979, dan analis memperkirakan permintaan listrik tahunan juga akan mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam hampir empat dekade.

Tetapi, terdapat beberapa tanda pemulihan tentative. Clyde Russel, seorang kolumnis Reuters menyebutkan pembangkit listrik mengalami pertumbuhan untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan pada bulan September, hal ini disebabkan oleh meningkatkan aktivitas di pabrik karena adanya relaksasi karantina wilayah.

Pembangkit listrik mengalami peningkatan sebesar 4,9% pada bulan September dan menjadi peningkatan bulanan pertama sejak bulan Februari, berdasarkan analisis Reuters terhadap data pengiriman muatan harian dari operator jaringan federal.