Harga Minyak Sawit Turun Sebesar 8%, RI Sulit Hindari Resesi

zehrabilgisayar.net, pertanian – Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami penurunan yang tinggi pada pekan ini. Hal tersebut dikarenakan tingginya pasokan minyak yang tidak diimbangi dengan permintaan sehingga membuat harga menurun.

Sepanjang pekan ini, harga minyak sawit menta di perdagangan Malaysia anjlok sebesar 8,38% secara point-to-point. Dimana harga CPO saat ini sudah jauh meninggalkan level MYR 3000 per ton.

Ekspor CPO dari Malaysia yang dicatat Societe Generale de Surveillance pada periode 1-25 September sebesar 411.370 ron. Dimana angka tersebut melonjak naik sebesar 15,64% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Sedangkan total ekspor yang dilakukan untuk produk CPO mencapai 1.320.949 ton dan angka tersebut juga mengalami kenaikan sebesar 14,1%.

Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh penurunan harga minyak bumi. Pada minggu ini, harga minyak berjanis brent juga mengalami penurunan sebesar 2,85%. Sedangkan untuk jenis light sweet juga sama mengalami penurunan sebesar 2,33%.

Pada saat harga minyak murah, maka insentif yang dilakukan untuk menjadikan CPO sebagai bahan baku pengganti BBM menjadi kecil. Permintaan CPO yang berkurang disebabkan oleh minyak bumi kembali jadi pilihan.

Koreksi harga minyak sawit mentah dapat memberikan dampak besar terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Salah satu komoditas ekspor yang menjadi andalan Indonesia adalah CPO.

Pada saat harga minyak sawit mentah mengalami penurunan, maka penerima ekspor Indonesia dipastikan akan terpengaruh. Hal tersebut dikarenakan komoditas ini memiliki peranan yang sangat besar. Kinerja ekspor yang sulit akan dipercaya dapat membuat Indonesia semakin masuk ke jurang resesi.

Bahkan disisi lain, penerimaan valas dari berkurangnya ekspor yang dilakukan juga dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah. Minimnya devisa dari ekspor yang terjadi dapat membuat rupiah bergantung kepada investasi portofolio di sektor keuangan. Hal inilah yang akan membuat rupiah menjadi fluktuatif, sulit untuk stabil.