Produksi Tembakau Diprediksi Susut Di 2020, Ini Penyebabnya

zehrabilgisayar.net, pertanian – Untuk akhir 2020 produksi tembakau diprediksi mengalami penurunan sampai dua digit dari realisasi produksi tahun sebelumnya. Sementara itu, serapan tembakau oleh berbagai industri pengguna masih belum mengalami peningkatan.

APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) memproyeksikan produksi tembakau yang terjadi sampai akhir tahun ini akan mencapai sebesar 185 ribu ton atau mengalami penurunan sekitar 10 persen secara tahunan.

Penurunan yang terjadi dinilai karena ada pengaruh curah hujan serta angin yang tinggi pada saat tembakau sedang membutuhkan terik matahari di ujung masa tanam.

Untuk daerah Jawa Tengah produksi tembakau tahun ini sangat bagus. Namun untuk daerah Jawa Timur mengalami penurunan, di Bali juga mengalami penurunan, serta di Jawa Barat tidak ada perubahan. Jika dilakukan kalkulasi secara nasional pada tahun 2020 agak turun, ucap Agus Pramuji, Ketua Umum APTI, Kamis (17/9/2020).

Agus mengatakan kondisi ini diperburuk dengan melandainya laju serapan oleh berbagai pabrik besar karena dampak pandemi Covid-19. Bahkan ketatnya protocol kesehatan yang harus dilakukan baik di kebun ataupun di pabrik membuat produktivitas mengalami penurunan.

Januari sampai Agustus 2020, serapan tembakau oleh berbagai pabrik besar baru mencapai 40 persen dari total panen yang dilakukan. Agus menilai serapan tembakau oleh berbagai pabrik besar dapat lebih tinggi hal tersebut dikarenakan kebutuhan tembakau oleh pabrik dapat mencapai sekitar 300 ribu ton per tahun.

Menurut Agus, penurunan produksi yang terjadi di pabrik tetap dapat membuat seluruh produksi tembakau nasional bisa diserap berbagai pabrik besar. Secara logika seharusnya hasil panen para petani tembakau dapat terserap dengan bagus serta mendapatkan harga yang layak.

Seperti yang diketahui bahwa pasokan tembakau lokal masih belum bisa memenuhi kebutuhan industri rokok yang ada di dalam negeri. Beberapa penyebabnya, salah satunya terdapat beberapa varietas tembakau yang tidak diproduksi di dalam negeri dan salah satu varietas lainnya mengalami penurunan pemasokan. Bahkan varietas yang lebih mendominasi impor tembakau adalah jenis Virginia, White Burley, serta Oriental.

White Burley dan Oriental adalah jenis tembakau impor yang memang diperlukan, hal tersebut dikarenakan para petani tembakau lokal tidak menanam varietas jenis tersebut.

Virgina juga merupakan jenis tembakau yang di impor, karena pasokan varietas tersebut oleh sentra produksi tembakau yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB) emang berkurang.

Pengurangan pasokan tembakau tersebut disebakan oleh naiknya biaya pengiriman yang terjadi akibat penghentian subsidi minyak tanah oleh pemerintah. Bahkan, pasokan tempurung kelapa sawit maupun kemiri sebagai bahan pengganti minyak tanah sulit ditemukan di NTB.

Terjadinya hal tersebut, membuat perkebunan tembakau di NTB berkurang yang diawal terdapat 52 ribu hektare menjadi 23 ribu hektar pada akhir tahun 2018.