Penjualan Ayam Turun 40%, Peternak Terancam Gulung Tikar

zehrabilgisayar.net – Peternak ayam mandiri yang terdapat di pulau Jawa terancam untuk gulung tikar seiring terjadinya penurunan permintaan akibat pandemi corona. Hal tersebut semakin diperparah dengan melimpahnya jumlah pasokan ayam yang menyebabkan harga ayam turun.

Sugeng Wahyudi sebagai Sekretaris Jenderal Gopan (Gabungan Organisasi Peternak Ayam) mengatakan bahwa saat ini harga ayam ras di tingkat pedagang hanya berkisar Rp 7.000 – Rp 8.000 per kilogram. Padahal, jika dilihat dari biaya produksi, peternak setidaknya memerlukan modal Rp 17.500 per kg.

Jika dilihat dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) harga daging ayam ras untuk tingkat konsumen secara rata-rata nasional pada hari Jumat (17/4) mencapai sekitar Rp 28.500 per kilogram.

Tingginya biaya yang diperlukan dalam produksi ayam tidak lain juga dikarenakan naiknya harga pangan. Sebab, selama ini untuk bahan baku pakan ternak, seperti jagung masih dapat di impor. Terjadinya pelemahan rupiah terhadap dolar AS, turut berimbas terhadap biaya produksi ayam.

Lain sisi, Sugeng juga mengatakan bahwa permintaan ayam mengalami penurunan sekitar 40% sejak maraknya pendemi corona. Sehingga banyak masyarakat enggan untuk membeli ke pasar ataupun adanya penurunan daya beli masyarakat karena tidak dapat bekerja selama periode pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Jika kondisi seperti ini terus berlanjut peternak akan mengalami kebangkrutan. Dan hal tersebut sudah mulai dirasakan oleh sebagaian peternak, ucap Sugeng.

Tidak hanya itu, rencana Kementrian Perdagangan dalam menyerap ayam yang berasal dari peternak rakyat dengan harga normal sekitar Rp. 17,500 –Rp. 18,000 pun sampai saat ini masih belum memberikan titik terang. Selain untuk membantu melindungi para peternak, nantinya ayam hasil pembelian akan disalurkan kepada warga-warga yang terimbas langsung terhadap pendemi virus corona

Rencana dari Kementerian Pertanian yang mau meyerap ayam dari peternak rakyat yang tidak bisa keluar ini mau dibeli oleh pemerintah untuk dibagikan kepada rakyat sampai saat ini masih belum ada kejelasan, ucap Sugeng.

Pada saat belum ada pendemi corona, para peternak ayam juga sudah mengaku bahwa bisnisnya kerap tertekan akibat jatuhnya harga ayam.

Peternak ayam mandiri mengatakan bahwa di tahun 2019 merupakan tahun tersulit dalam membudidayakan ayam broiler. Bahkan Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara mengklaim bahwa tahun ini mengalami kerugian sekitar Rp. 2 triliun yang dikarenakan jatuhnya harga ayam.

Salah satu anggota paguyuban, Perjuni mengatakan bahwa harga ayam mengalami penurunan sampai Rp. 5,000 per kilogram yang disebabkan oleh kelebihan pasokan. Dimana kondisi tersebut juga diperparah karena harga pangan ternak yang mencapai harga berkisar Rp. 6,800 – Rp. 7,200 per kilogram.

Bahkan Perjuni juga mengatakan, seakan tidak adanya perbaikan tata niaga perunggasan nasional yang cukup signifikan, dalam siaran pers Paguyuban Peternak Nusantara.