Cuncun Sukses dengan Lobster Air Tawar

zehrabilgisayar.net, peternakan – Merintis usaha memang butuh kejelian dan keberanian. Setiap ada celah dan peluang yang sekiranya bisa membawa hasil, harus segera dimanfaatkan. Contoh nyatanya ada pada diri pengusaha lobster Cuncun Setiawan di Kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Ketika bisnis lobster di Tanah Air lebih didominasi jenis lobster laut, pengusaha muda ini justru menawarkan alternatif lain. Dia cenderung memilih bisnis lobster air tawar. “Lobster air tawar itu sama persis [dengan di laut]. Dan, itu sudah diteliti di Amerika Serikat, baik kandungan dagingnya maupun rasanya. Bedanya hanya kolesterolnya lebih rendah dan mengandung omega tiga,” kilah Cuncun.

Usaha yang dirintis Cuncun termasuk pilihan yang berani dan berisiko. Pasalnya, saat ini tidak banyak pengusaha yang mau terjun mengeluti lobster air tawar. Namun, pilihan Cuncun tidak salah. Dia berhasil membuktikan bahwa dalam waktu yang relatif singkat usahanya ini mampu meraup penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Selain lobster air tawar memiliki keunggulan lain, rupanya Cuncun juga jeli melihat peluang pasar. Ternyata, lobster jenis ini banyak diminati sejumlah restoran hotel di Jakarta. Sedikitnya, sekitar 50 kilogram lobster dikirim Cuncun ke tempat ini. Harganya dia patok sebesar Rp 250 ribu per kilogram.

Melihat pasaran lobster air tawar begitu tinggi. Pria berusia 27 tahun ini rupanya pintar juga melihat peluang untuk lebih mengembangkan usahanya. Maka, sejak tiga tahun silam, Cuncun pun mulai memberanikan diri untuk membuat peternakan lobster air tawar. Cuncun mendirikan usahanya ini di atas tanah seluas 1.500 meter di kawasan Bintaro, Jaksel.

Untuk modal awal Cuncun menyediakan dana sekitar Rp 4,5 juta. Ini di antaranya biaya untuk membeli satu set bibit lobster air tawar yang terdiri atas lima betina dan tiga jantan serta berbagai kelengkapan lainnya. Dibantu dua orang pegawainya, Cuncun berhasil menjalankan usahanya. Dari peternakan ini dihasilkan berbagai lobster untuk dikonsumsi. Lobster ini umumnya berasal dari Australia, Cina dan Eropa. Selain itu, diternakkan juga lobster hias yang berasal dari Papua. Untuk lobster jenis ini, hampir setiap hari ada saja pesanan yang datang.

Dengan cara pemeliharaan yang cukup mudah, Cuncun mengaku sangat optimistis dalam menjalankan usaha ini. Pasalnya, lobster air tawar memiliki keunggulan dan potensi pasar yang cukup menjanjikan.

Selain membudidayakan lobster, di tempat ini Cuncun juga membuka pelatihan bagi orang-orang yang berminat untuk terjun dalam usaha sejenis. Dan, sejak satu tahun terakhir ini, dia mulai lebih memfokuskan usahanya sebagai pusat pelatihan dan penjualan lobster air tawar, tidak hanya untuk pembenihan hingga pembesaran saja.

Menurut Cuncun, latihan diadakan sekitar satu hari. Dalam latihan ini dijelaskan dari awal bagaimana cara membuat kolam, mengolah air, pembenihan hingga pengemasan. Misalnya saja untuk pembenihan. Menurut Cuncun, semua orang bisa memanfaatkan tempat yang terbatas seperti aquarium. Dengan tempat ini bisa dibenihkan lobster dengan ukuran dua inci hingga lima sentimeter selama dua bulan.

“Itu yang kita sebut anak-anakan. Lobster kecil itu kita lempar ke orang lain untuk pembesaran. Pembesaran dengan ukuran tertentu berlangsung kira-kira enam bulan. Jadi total umur lobster delapan bulan. Beratnya kira-kira satu hingga dua ons per ekor,” kata Cuncun.

Meski sudah menghasilkan uang hingga puluhan jutaan rupiah, namun Cuncun menganggap usahanya ini belum sebesar yang diharapkan. Cuncun menganggap semua itu masih dalam proses merintis. Karena itulah, Cuncun berharap ada mitra yang mau bekerja sama menggarap bisnis ini. “Lobsternya kan belum banyak. Sekarang ini paling hanya beberapa tempat saja yang kita kirim. Kalau ada restoran yang menambah pesanan, kita pasti kekurangan barang (lobster),” kata Cuncun.

Cuncun juga berkeinginan melalui pelatihan ini akan banyak masyarakat yang tergerak untuk menjalankan bisnis budi daya lobster air tawar dengan serius. Sebab, bukan tidak mungkin akan ada pengusaha lain yang juga bisa meraih kesuksesan seperti yang telah dirasakan Cuncun Setiawam.