Genjot Manufaktur, Presiden Jokowi Diimbau Tak Lupa Produksi Migas

www.zehrabilgisayar.net,Migas – Untuk berhasil bertransformasi dan meningkatkan sektor manufaktur nasional. Presiden Jokowi Widodo di imbau untuk terus meningkatkan ekspolarasi minyak dan gas.

Praktisi Minyak dan Gas Tumbar Parlindungan menuturkan bahwa selama ini pemerintah ingin melakukan transformasi ekonomi yang semula bergantung pada sumber daya alam dan menjadi peningkatan daya saing yang manufaktur. Namun demikian pemgembangan sektor manufaktur butuh banyak kesiapan salah satunya dari sisi energi.

Tumbar juga menyebutkan kini sektor Migas membutuhkan pengembangan eksplorasi di tengah produksi migas yang semakin merosot karena semur-semur penghasil migas telah menua. Posisi Migas memang tidak bisa tergantikan dengan sember energi laiinya termasuk Energi Baru Terbarukan (EBT). “jadi tolong benerin energi dulu, kalua tidak yang lain tak akan jalan lebih maju Energi number one,darahnya itu pembanguan energi imbuhnya.

Saat ini investasi sektor hulu migas menemukan banyak masalah dan kendala. Masalah yang sering di temukan ialah inventasi migas yang cenderung dipenuhi ketidakpastian, padahal investasi migas ialah investasi jangka panjang hingga mencapai tenggang waktu puluhan tahun lamanya. Oleh karean itu perubahan kebijakan di tengah masa investasi akan merugikan investor.

Kemudian pemerintah Indonesia juga terlalu banyak campur tangan tentang teknis investasi. Tentunya hal itu akan menghambat investasi. Maka dari itu banyak investor asing yang mengalihkan modalnya pada sektor energi ke negara lain.

Saat ini negara yang paling banyak kejar oleh investor di sektor migas ialah Vietnam. Mengapa Vietnam menjadi sasaran investasi, karena Vietnam memiliki sektor energi yang lebih bagus ketimbang negara kita. Bukan hanya dari regulasi energinya namun Veitnam juga dilihat bagus untuk investasi jangka Panjang.

Kendati ucapan yang disampaikan Tumbar, Ekomom Institu For Development of Economics anda finance (INDEF) Barlay Martawardayan mengatakan lifting miga kini turun kurang lebih 30 persen sejak tahun 2013.

Pada tahun 2013 lalu realisasi lifting minyak tercatat sebesar 825 ribu real barel perhari dan gas mencapai 1,25 juta barel perhari. Namun pada tahun 2018, lifting minyak hanya sebesar 778 ribu barel perhari dan gas 1,1 juta barel perhari.

Hal ini di sebabkan oleh investasi migas kita tidak menarik, Tumbur khawatir kenaikan permintaan energi untuk sektor manufaktur justru menambah defisit, Alasanya Indonesia harus menambah impor minyak guna untuk memenuhi sektor manufaktur jika pemerintah serius menggenjot sektor manufaktur. Jangan sampai permintaan meningkat sedangkan untuk suplai energi justru menurun, maka akan melemahkan rupiah dan ekonomi makro.