Potensi Ekspor Besar, Menteri Kelautan Dan Perikanan Tingkatkan Budidaya Udang

www.zehrabilgisayar.net, peternakan – Menteri Kelautan dan Perikanan menerima kunjungan dari perwakilan Shrimp Club Indonesia, Petambak Muda Indonesia, serta Asosiasi Pengusaha Pengolah Pemasar Hasil Perikanan Indonesia.

Untuk mengawali pertemuan, Ketua Umum SCI Iwan Sutanto mengatakan bahwa, budidaya udang di Indonesia sering kali mengalami penyakit. Hal ini mengakibatkan banyaknya pembudidaya yang gagal panen. Namun, Indonesia cukup beruntung karena disaat negara lain terkena wabah penyakit EMS, Indonesia masih aman dari penyakit tersebut. Akibat dari wabah tersebut negara lain seperti Tiongkok produksi udang berkurang hingga 1 juta ton per tahun.

Para pelaku budidaya berharap agar KKP keluarkan aturan terkait pencegahan penyakit agar mencegah penyakit serupa masuk ke Indonesia. Harapan ini disampaikan kepada KKP karena selama ini melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah banyak membantu masalah budidaya di Indonesia termasuk salah satu produk udang Indonesia yang di tahan di Amerika Serikat akibat adanya tuduhan subsidi.

Iwan melihat, budidaya udang dari Indonesia harus terus di dorong karena udang merupakan salah satu komoditas budidaya andalan utama Indonesia.” Bicara ekspor, pasti kita mengarah ke udang karena 60 persen dari ekspor udang Indonesia itu semua berasal dari hasil budidaya, bahkan nilainya di atas ikan tuna,”tambahnya.

Ia kembali menyebutkan bahwa, dari angka 60 persen 50 persennya di produksi oleh SCI. Melalui pesan tertulis ia kembali mengatakan bahwa “Budidaya udang ini memang tempatnya mencari uang dan devisa. Dari usaha ini kita bisa ciptakan banyak pengusaha-pengusaha baru”.

Akan tetapi, selama ini pihaknya sedikit mengalami kesulitan dalam perizinan budidaya udang akibat dari kurangnya keharmonisan dari daerah dan pusat. Akibatnya, di tahun 2019 ini ada 7 perusahaan tambak tutup di Kabupaten Pesisir Selatan Lampung.

Potensi Ekspor

Sepakat dengan Iwan, Ketua AP5I Budhi Wibowo menyatakan bahwa memang benar udang merupakan potensi perdagangan ekspor yang terbesar. Ekspor udang sendiri kurang lebih USD 1,8 miliar per tahun dengan jumlah lebih dari 200.000 ton. AP5I sendiri dalam membudidayakan udang kurang lebih 350.000 ton. Padahal AP5I mempunyai kapasitas mesin pengolah sebesar 550.000 ton. ” Kami masih kekurangan bahan baku 200.000 ton. Inilah salah satu alasan yang menyebabkan kami susah bersaing di pasar Internasional karena mengingat kapasitas dan utilitas kami hanya 60 persen,”tuturnya.

“Kami dengar, perikanan budidaya merupakan salah satu fokus pembangunan KKP saat ini. Semoga kedepannya produksi dari budidaya udang semakin baik dan meningkat lagi,” Harapnya.

Prioritas

Dalam menjawab harapan dari pelaku pembudidaya tersebut, Edhy menegaskan bahwa memang hingga saat ini pada sektor budidaya menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, akan dilakukan optimalisasi penyediaan teknologi yang mumpuni dan berkelanjutan. Ia juga berharap pelaku usaha tambak lebih intensif dalam memberikan pembinaan terhadap pembudidayaan tradisional.

” Masa iya pada budidaya intensif bisa 50 tahun setahun sedangkan untuk tambak tradisional hanya 1 ton pertahun? Saya mohon kepada semua bapak-bapak untuk menaikkan ini minimal 5 ton saja pertahun,” katanya

PMI Rizky Dermawan menanggapi Menteri Edhy, ia menyatakan akan siap membantu meningkatkan teknologi budidaya pada tambak tradisional. Menurutnya, sebenarnya untuk kualitas udang hasil produksi tambak tradisonal hingga saat ini tidak ada masalah.

Tentang harga yang masih kurang bisa bersaing di pasar internasional, PMI melihat perlu meningkatkan strategi promosi. PMI siap membantu karena hampir semua anggota PMI tamatan dari luar negeri yang pastinya mereka sendiri mempunyai jaringan serta informasi yang luas di luar sana.

“Inti dari konteks kita kali ini tentang pembudidaya kecil yaitu masalah pembinaan. Ini akan menjadi salah satu fokus kita untuk kedepannya,” tutupnya.