PT Pertamina (Persero) Bangun Kawasan Ekonomi Masyarakat Adat Desa Bengkala

PT Pertamina (Persero) memprakarsai Kawasan Ekonomi Masyarakat (KEM) Kolok Bengkala untuk membangun kemandirian masyarakat adat Desa Bengkala, Buleleng, Bali.

Manajer Unit Komunikasi dan CSR Pertamina MOR V Rustam Aji mengatakan, untuk keberhasilan Bengkala KEM ini dalam waktu tiga tahun dari Pertamina melalui CSR DPPU Ngurah Rai telah menghabiskan sekitar Rp 1,31 miliar.

“KEM Kolok Bengkala sebagai komitmen Pertamina untuk berpartisipasi mimpi desa Bengkala masyarakat adat untuk menjadi mandiri dan sejahtera, dan sekaligus meningkatkan akses terhadap pendidikan dan kesehatan masyarakat,” kata Rustam Aji, dalam keterangan tertulis, Kamis (26/09/2019).

Rustam mengatakan Bengkala desa yang memiliki populasi 3.000 orang adalah sebuah desa tradisional yang unik, karena memiliki kolok masyarakat (bisu-tuli), yang jumlahnya sekitar 50 orang. Karena penduduk desa ini sebanyak dua persen lahir dalam keadaan bisu-tuli.

KEM Kolok Bengkala, pertama kali dibangun di atas lahan seluas sekitar tiga hektare di Dusun Kelodan. Pertamina kemudian melanjutkan pembangunan KEM kedua dikembangkan di desa Banjar Kajanan.

Pertamina juga membangun fasilitas yang dibangun di daerah KEM, antara lain, bale bengong (gazebo), wantilan (gazebo utama), bale tenun, dapur, rumah adat Kolok, rumah pemilik tanah, kamar mandi, drainase air pit, kandang untuk ternak dan lahan untuk menanam sayuran di musim hujan.

Selain itu, Pertamina juga membangun dua kolam besar sebagai sumber air bersih, tempat ibadah, balai masyarakat dan rumah layak huni untuk Komunitas Kolok. KEM Bengkala Kolok juga berhasil menyabet CSR Award kepulauan La Tofi School of CSR dengan kategori Cacat Pemberdayaan.

“Pertamina juga menyediakan berbagai pelatihan keterampilan seperti pembuatan kain tenun Bengkala;. Pelatihan dalam produksi ekstrak herbal kunyit Bengkala, lukisan pelatihan batik Bengkala dan pelatihan sebagai kearifan lokal seperti membuat dupa dan piring Bali KEM Kolok Bengkala, diharapkan menjadi panutan bagi perkembangan masyarakat adat, dengan tetap mempertahankan pengetahuan keunikan dan lokal, “katanya.