Pertanian Dituding Mengancam Keragaman Tumbuhan dan Hewan

zehrabilgisayar.net – Aktivitas pertanian dituding miliki dampak terbesar bagi lingkungan. Pengoperasian pertanian dan peternakan telah kuasai penggunaan 33 % lahan di Bumi dan habiskan 75 % dari air bersih.

Kegiatan ini juga sumbang 25 % dari emisi gas rumah kaca dari pupuk dan konversi lahan. Konversi lahan ini termasuk ubah hutan tropis untuk pertanian dan peternakan.

Ancaman berikutnya adalah eksploitasi tanaman dan hewan dari pemanenan, penebangan hutan, perburuan, memancing, perubahan iklim, polusi, dan penyebaran hewan-hewan yang bersifat invasif. Laporan IPBES menyebut hewan invasif ini telah mengurangi 20 % keanekaragaman hayati sejak 1900.

Peningkatan suhu Bumi juga ikut menyumbang pengurangan keanekaragaman hayati. Kenaikan suhu bumi sebesar 2 derajat dari suhu sebelum era perindustrian, bisa mengurangi 5 % spesies di Bumi. Kenaikan 4,3 derajat bisa menghilangkan 16 % spesies.

Akibatnya, lebih dari satu juta spesies tumbuhan dan hewan terancam punah. Beberapa spesies bahkan diperkirakan akan musnah dalam beberapa dekade ke depan akibat ulah manusia.

Saat ini tingkat kepunahan spesies sudah meningkat ratusan kali lebih tinggi dari rata-rata kepunahan dalam sepuluh juta tahun terakhir. Menurut laporan WWF tahun lalu, populasi mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi telah berkurang 60 persen dalam 40 tahun terakhir.

Analisis dalam laporan mengatakan tanpa adanya tindakan yang dramatis untuk konservasi habitat, maka tingkat kepunahan spesies akan terus meningkat. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan Bumi untuk menunjang kehidupan, baik untuk memperbarui udara, tanah yang gembur, dan air yang layak minum.

Prediksi tersebut terungkap dalam laporan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) tentang kondisi ekosistem global yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kepunahan spesies dan hilangnya habitat hidup menimbulkan banyak ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia, salah satunya adalah perubahan iklim.

“Keanekaragaman hayati harus berada di puncak agenda global bersama dengan iklim. Kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa kita tidak tahu,” kata Executive Secretary IPBES Anne Larigauderie dalam konferensi pers di Paris, Prancis (6/5),” seperti dilansir Nature.

Laporan ini menyaring temuan dari hampir 15.000 penelitian dan laporan pemerintah, mengintegrasikan informasi dari ilmu alam dan sosial, masyarakat adat dan komunitas pertanian tradisional.

Laporan ini adalah penilaian internasional pertama keanekaragaman hayati sejak 2005. Perwakilan dari 132 pemerintah bertemu di Paris untuk menyelesaikan dan menyetujui laporan.

“Hilangnya spesies, ekosistem, dan keragaman genetik telah menjadi isu global dan mengancam kehidupan manusia untuk generasi berikutnya,” jelas Sir Robert Watson, kepala IPBES, seperti dikutip The Independent.

Tanpa perubahan transformatif dalam sistem ekonomi, sosial dan politik dunia untuk mengatasi krisis ini, panel IPBES memproyeksikan bahwa bumi akan terus kehilangan keanekaragaman hayati utama hingga 2050 dan seterusnya.

Laporan ini merupakan laporan yang paling komprehensif. Laporan ini memprediksi kesejahteraan generasi saat ini dan generasi mendatang akan mendapatkan ancaman,

Laporan setebal 1.800 halaman ini menjabarkan serangkaian skenario di masa depan berdasarkan keputusan pemerintah dan pembuat kebijakan lainnya, dan merekomendasikan rencana penyelamatan.

Laporan ini menyoroti aktivitas manusia telah menghancurkan alam, seperti hutan, lahan basah dan lanskap alam lainnya. Aktivitas manusia juga merusak kapasitas Bumi untuk memperbaharui udara yang dapat bernapas, tanah yang produktif dan air yang dapat diminum.